Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari diskusi Meja Budaya yang pada beberapa titik sempat terkesan begitu argumentatif-defensif dibanding argumentatif-objektif. Seperti Mas Arie sendiri katakan, di atas meja itu, masing-masing orang memang membawa “kopor”-nya sendiri. Dan Pak Sides Sudyanto DS pun cukup kena saat berkata, untuk membedah karya sastra seseorang sebenarnya harus menggunakan perangkat teori ketimbang isi kepalanya sendiri. Itu membuat saya tersenyum dalam hati, terutama saat Pak Sides berkata, “Arie Tamba seperti bertepuk sebelah tangan”.
Menarik juga untuk mengetahui pandangan orang-orang, yang bisa dibilang sudah pakar dan senior di bidang sastra, tentang karya saya. Mas Arie Batubara bilang, karya saya memiliki “kecenderungan”. Saya sendiri lupa kecenderungan seperti apa, tapi yang membuat saya sempat terbahak adalah kesan bahwa karya saya sepertinya bisa berbahaya bagi yang membacanya. Tiba-tiba saya teringat komentar seorang teman ketika saya tanyakan kesannya setelah membaca novel saya itu. “Kamu itu kiri, ya?”. Ada juga yang menghubungkan karya saya dengan pemikiran post-modernis, ada yang –saya kira orang itu mungkin terpengaruh oleh tampilan luar saya yang sangat urban dan metropolitan—terlanjur “menuduh” karya saya hanyalah cerita-cerita populer biasa padahal dia pun mengaku belum membaca semuanya. Astaga. Tolong dipikirkan lagi. Mas Geger sendiri bilang, setelah menjelaskan alasan mengapa ia berhenti membaca sejak 2 tahun yang lalu dan juga memaparkan istilah “disfungsi sosial” dan “disfungsi individu”, menilai Fantasia Impromptu begitu disfungsi komposisi. Tolong dijelaskan lagi, Mas? Saya ini terus terang buta dan mudah lelah mendengar beragam istilah. Bahkan ketika editor saya, Veronika B. Vonny, berkata karya saya itu beraliran surealisme, sementara Dans, teman baik saya bilang alirannya psikologis dan mengatakan saya pengarang yang psikopat-religus, saya hanya bisa bertanya apa maksud mereka. Tapi intinya, saya sangat menerima kritik dan opini, tak ketinggalan juga pujian untuk novel debut saya ini. Termasuk pendapat Pak Sides yang amat lugas berkata gaya bahasa saya tak sesuai dengan isi yang saya sampaikan. Kontradiksi antara isi yang inkonvensional dengan cara tutur yang konvensional itu memang benar. Yang tidak bisa saya terima, terus terang saja, adalah cap cerita populer tadi itu. Karena, maaf saya bila yang bersangkutan membaca ini, saya pikir ada baiknya ia terlebih dulu “melalap” buku saya seluruhnya. Adalah tidak adil juga untuk membandingkan saya, dan juga perempuan penulis lainnya, dengan Ayu Utami ataupun Djenar Maesa Ayu. Seperti yang saya ketahui, ketika orang mulai terjebak dalam komparasi, ia tidak lagi menilai secara objektif melainkan secara subjektif. Ia tidak lagi mengkaji dengan metode per se, melainkan sudah mengutamakan preferensi. Dan bicara tentang preferensi, akhirnya ia harus memilih salah satu. Dan, tidak bisa disalahkan apabila ia memilih Ayu atau Djenar ketimbang saya. Sekali lagi, ini selera. Über Geschmack soll man nicht streiten, kata orang Jerman. Artinya, urusan selera jangan diperdebatkan.
Sebelum saya terlalu berpanjang-panjang menyatakan keberatan saya yang pada akhirnya juga terkesan terlalu defensif, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan berterima kasih pada Mas Arie Tamba yang sudah memperkenalkan saya pada komunitas luar biasa ini. Banyak hal yang masih harus saya pelajari agar bisa tune in dalam diskusi budaya ini, tapi jelas wawasan saya telah banyak terbuka dalam acara kemarin. Untuk rekan-rekan Meja Budaya, terima kasih atas sambutannya untuk Fantasia Impromptu.
[rei]
"writing is part of my catharsis"

No comments:
Post a Comment